Tags : chip8051VHDLMikrokontrolerTeknologiMCS-51robotFPGAProgrammableMikroprosesorAlteraPLCPemrograman
Home » Teknologi » TV Berwana Tertipis

TV Berwana Tertipis

Oleh , 4 Mei 2009.

 

Perkembangan teknologi display saat ini telah memungkinkan untuk menghasilkan layar setipis kartu kredit, layar dengan 7 layer ini lebih enak dilihat dan lebih efisien dibanding LCD dan plasma.

image001

Channel Vision pada layer 1 (lingkaran pertama dari sebelah kiri) memiliki plat yang diisi dengan elektron. Injeksi dan pengangkutan elektron berlangsung pada layer ke-2, dimana material menggerakan elektron menuju layar pada bagian tengah. Pada layer ke-3 elektron dan rongga-ronga bertemu, dan sinar memancarkan molekul menghasilkan energi sebagai photon dari sinar yang tampak.

OLED (organic light emitting diode), merupakan sebuah teknologi yang dikembangkan untuk menghasilkan display yang lebih baik, pada OLED karbon berpusat pada molekul yang memancarkan sinar ketika diisi dengan listrik, prototipe terbaru memiliki ketebalan setipis kartu kredit (0.3mm), karena pixel OLED menghasilkan sinarnya sendiri, tanpa ada suatu apapun lagi di belakang layar, berbeda dengan LCD ataupun Plasma, pada LCD diperlukan lampu pijar atau lampu LED untuk menyinari pixel, sedangkan pada plasma diperlukan ruang terpisah untuk diisi gas secara elektrik.  

image0022Injeksi pada rongga dan pengangkutan. Terjadi kehilangan elektron pada saat pengangkutan ke anoda, material-material ini memerlukan penggantian dari layer terluar

 Sinar yang dihasilkan oleh OLED akan memancarkan molekul-molekul yang dapat memijarkan warna sehingga sinar tersebut akan menghasilkan tingkat kecerahan dan kejernihan warna yang lebih baik jika dibandingkan dengan sinar yang dihasilkan pada LCD. Selain itu molekul-molekul yang dihasilkan oleh OLED dapat menciptakan warna-warna yang lebih tajam daripada material fosfor pada plasma.

Kelebihan lain yang dimiliki OLED adalah efisiensi, jika pada LCD backlight tetap menyala meskipun layar berwarna hitam, maka pada OLED pixelnya akan mati untuk menampilkan warna hitam. Disamping itu energi yang dibutuhkan untuk pengisian molekul-molekul dalam OLED lebih sedikit jika dibandingkan gas ionisasi pada TV Plasma.

Sistem kerja OLED seperti lampu listrik yaitu dengan mengubah energi listrik menjadi cahaya. Untuk melakukannya, OLED menyediakan 2 hal: sumber elektron, dan ruang kosong dengan layar di dalamnya di mana elektron-elektron tersebut dapat mendarat.

Katoda, plat pengisi diletakkan di belakang layar, melepaskan elektron yang bergerak menuju layer yang memancarkan sinar. Pada saat itu juga, anoda menyerap elekton yang keluar dari layar, meninggalkan rongga-rongga bagi elektron-elektron baru untuk diisi. Ketika elektron dan rongga bergabung pada layer pemancar, elektron mengirimkan energi pada molekul-molekul yang memancarkan sinar, ketika mereka berpijar.

image0031 Anoda: Plat ini memindahkan elekton dari layer, meninggalkan ’rongga-rongga’ dimana mereka sebelumnya berada.

 Masing-masing pixel pada layar berisi molekul yang memancarkan warna merah, hijau, dan biru. Layer sirkuit mengendalikan kecerahan dari masing-masing warna, mencampurkan warna-warni untuk menampilkan warna-warna nyata yang dapat dilihat oleh mata.

 

image0042 Transistor film tipis: sirkuit mengatur jumlah elektron yang melalui bagian warna merah, hijau, dan biru dari masing-masing pixel untuk memberikan variasi terang

 

Kekurangan dari teknologi OLED adalah harganya yang mahal, hal ini disebabkan oleh kaca yang sesuai dengan display OLED saat ini masih dibuat dalam jumlah yang terbatas 

 

image005 Substrat: Lembaran kaca membentuk panel-panel depan. Substrat masa depan dibuat dari plastic, yang memungkinkan ukuran yang super tipis, layer fleksibel yang dapat diaplikasikan seperti wallpaper.

 Beberapa perusahaan besar seperti LG, Samsung, SONY dan lainnya berencana akan memasarkan TV dengan teknologi OLED ini pada tahun 2012, saat ini perusahaan-perusahaan tersebut sedang meneliti metode yang efisien untuk mengaplikasikan sinar yang memancarkan molekul-molekul ke layar besar.

 Sumber: thefutureofthings.com

· kirim komentar

Komentar

Tambahkan komentar anda di bawah, atau trackback dari situs anda. Berlangganan komentar ini melalui RSS.

Silahkan berdiskusi yang padat dan berisi. Tetap pada topik. Dilarang spam.